Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Mendidik Anak Usia 15 - 21 Tahun

Posted by Rizkianugrahaeni

Saat anak memasuki masa remaja atau berusia sekitar 15 tahun, anak akan mengenal lingkup pergaulan yang lebih luas sehingga pergaulan dengan lawan jenis juga harus diperhatikan. Anak remaja pada usia ini cenderung memberontak. Oleh karena itu, lakukan pendekatan yang baik kepada anak dan perla
Pada usia ini, anak telah memasuki usia akil baligh, sehingga orang tua seharusnya memberikah kebebasan untuk bergaul, namun kebebasan yang tidak sebebas-bebasnya. Anak harus tetap diawasi dan diberi batasan dalam pergaulan tersebut. Pengawasan  yang diberikanpun seharusnya bukan pengawasan yang otoriter, sehingga anak akan merasa dicintai, dianggap penting, dan dihargai hak-haknya.

Orang tua harus mempunyai kebijakan dalam mengatur waktu, mana waktu untuk bermain, dan mana waktu untuk kegiatan lainnya. Pantau lingkungan pergaulan anak meskipun anak sudah bekerja sekalipun. Jangan sampai anak bergaul dalam lingkungan yang membawa pengaruh buruk.

Tumbuhkan rasa nyaman dan aman pada anak sehingga mereka menganggap bahwa orkukan anak sebagai sahabat supaya orang tua lebih mudah mengawasi pergaulannya.
ang tua bisa menjadi sahabat setia yang selalu siap mendengarkan curahan hati anak. Jangan sampai ketika anak mempunyai masalah malah anak lebih memilih mencurahkan isi hatinya kepada orang lain dibandingkan kepada orang tua.

Dalam hal pendidikan, orang tua harus mampu mengarahkan anak untuk memasuki jenjang pendidikan mana yang sesuai dengan minat dan bakat anak. Ketika anak akan memasuki dunia kerja pun begitu. Orang tua harus mampu mengarahkan, memberikan pertimbangan tentang dunia kerja yang dirasa sesuai dengan kemampuan dan tuntutan lapangan kerja. Jangan lupa, bekali anak dengan keahlian dan keterampilan hidup.


More aboutMendidik Anak Usia 15 - 21 Tahun

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)

Posted by Rizkianugrahaeni


Pada postingan kali ini saya akan mengulas tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT.  Ulasan di bawah ini disadur dari skripsi karya Warid Ardiansyah Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang.

Pembelajaran Kooperatif sangat beragam jenisnya. Salah satunya adalah model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament). Menurut Kurniasari (2006), model pembelajaran TGT merupakan model pembelajaran kooperatif dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang terdiri atas 3-5 siswa yang heterogen, baik dalam hal akademik, jenis kelamin, ras, maupun etnis. Inti dari model ini adalah adanya game dan turnamen akademik.
Sebelum memulai game dan turnamen akademik, guru terlebih dahulu menempatkan siswa dalam sebuah tim yang mewakili heterogenitas kelas ditinjau dari jenis kelamin, ras, maupun etnis. Masing-masing siswa nantinya akan mewakili kelompoknya untuk bersaing dalam meja turnamen.
Setelah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, guru kemudian menyajikan materi dan selanjutnya siswa bekerja mengerjakan LKS dalam kelompoknya masing-masing. Apabila ada anggota kelompok yang kurang mengerti dengan materi dan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertugas memberikan jawaban seta menjelaskannya sebelum pertanyaan tersebut diajukan kepada guru.
Untuk memastikan apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, maka siswa akan bertanding dalam game dan turnamen ademik. Game hanya diikuti oleh perwakilan dari masing-masing kelompok, sedangkan turnamen diikuti oleh semua siswa.
Ketika turnamen akademik, siswa akan dipisahkan dengan kelompok asalnya untuk ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Setiap meja turnamen terdiri dari beberapa siswa yang mewakili kelompoknya masing-masing. Penentuan dimana meja turnamen yang akan ditempati oleh siswa dilakukan oleh guru, yaitu dengan melihat homogenitas akademik. Maksudnya, siswa yang berada dalam satu meja turnamen adalah siswa dengan kemampuan akademiknya setara. Hal ini dapat ditentukan berdasarkan nilai yang diperoleh saat pre-test.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan tahapan-tahapan dalam model pembelaran TGT. Menurut Slavin (2001:166-167), langkah-langkah model pembelajaran TGT ada lima tahap, yaitu: tahap presentasi di kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. Uraian selengkapnya sebagai berikut:
2.2.A.   Presentasi di kelas
Penyajian materi dalam TGT diperkenalkan melalui presentasi kelas. Presentasi kelas dilakukan oleh guru pada saat awal pembelajaran. Guru menyampaikan materi kepada siswa terlebih dahulu yang biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung melalui ceramah. Selain menyajikan materi, pada tahap ini guru juga menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, serta memberikan motivasi.
Pada tahap ini, siswa juga dapat diikutsertakan saat penyajian materi. Bahkan agar lebih menarik, penyajian materi bisa disajikan dalam bentuk audiovisual yang dikemas dalam CD interaktif seperti yang dilakukan dalam penelitian ini.
Pada saat penyajian materi, siswa harus benar-benar memperhatikan serta berusaha untuk memahami materi sebaik mungkin, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok, game dan saat turnamen akademik. Selain itu, siswa dituntut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran seperti mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan yang diajukan guru, dan mempresentasikan jawaban di depan kelas.
2.2.B.   Tim/kelompok
Setelah penyajian materi oleh guru, siswa kemudian berkumpul berdasarkan kelompok yang sudah dibagi guru. Setiap tim atau kelompok terdiri dari 3 sampai 5 siswa yang anggotanya heterogen. Dalam kelompoknya siswa berusaha mendalami materi yang telah diberikan guru agar dapat bekerja dengan baik dan optimal saat turnamen.
Guru kemudian memberikan LKS untuk dikerjakan. Siswa lalu mencocokkan jawabannya dengan jawaban teman sekelompok. Bila ada siswa yang mengajukan pertanyaan, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan tersebut. Apabila teman sekelompoknya tidak ada yang bisa menjawabnya, maka pertanyaan tersebut bisa diajukan kepada guru.
Belajar dalam kelompok sangat bermanfaat, karena dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial memupuk keterampilan kerja sama siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud adalah berbagi tugas dengan anggota kelompoknya, saling bekerja sama, aktif bertanya, menjelaskan dan mengemukakan ide, menanggapi jawaban/pertanyaan dari teman, dan sebagainya.
2.2.C.  Game (permainan)
Apabila siswa telah selesai mengerjakan LKS bersama anggota kelompoknya, tugas siswa selanjutnya adalah melakukan game. Game dimainkan oleh perwakilan dari tiap-tiap kelompok pada meja yang telah dipersiapkan. Di meja tersebut terdapat kartu bernomor yang berhubungan dengan nomor pertanyaan-pertanyaan pada lembar permainan yang harus dikerjakan peserta. Siswa yang tidak bermain juga berkewajiban mengerjakan soal-soal game beserta teman sekelompoknya.
2.2.D.   Tournament (turnamen)
Turnamen biasanya dilakukan tiap akhir pekan atau akhir subbab. Turnamen diikuti oleh semua siswa. Tiap-tiap siswa akan ditempatkan di meja turnamen dengan siswa dari kelompok lain yang kemampuan akademiknya setara. Jadi, dalam satu meja turnamen akan diisi oleh siswa-siswa homogen (kemampuan setara) yang berasal dari kelompok yang berbeda.
Meja turnamen diurutkan dari tingkatan kemampuan tinggi ke rendah. Meja 1 untuk siswa dengan kemampuan tinggi, meja 2 untuk siswa dengan kemampuan sedang. Meja 3 untuk siswa dengan kemampuan di bawah siswa-siswa di meja 2, dan seterusnya. Di meja turnamen tersebut siswa akan bertanding menjawab soal-soal yang disediakan mewakili kelompoknya.
Soal-soal turnamen harus dirancang sedemikian rupa agar semua siswa dari semua tingkat kemampuan dapat menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Jadi, guru membuat kartu soal yang sulit untuk siswa pintar, dan kartu dengan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. 
Siswa yang mendapat skor tertinggi akan naik ke meja yang setingkat lebih tinggi. Siswa yang mendapatkan peringkat kedua bertahan pada meja yang sama, sedangkan siswa dengan peringkat-peringkat di bawahnya akan turun ke meja yang yang tingkatannya lebih rendah. 


Setelah siswa ditempatkan dalam meja turnamen, maka turnamen dimulai dengan memperhatikan aturan-aturannya. Aturan-aturan turnamen TGT yaitu:
(1)     cara memulai permainan
Untuk memulai permainan, terlebih dahulu ditentukan pembaca pertama. Cara menentukan siswa yang menjadi pembaca pertama adalah dengan menarik kartu bernomor. Siswa yang menarik nomor tertinggi adalah pembaca pertama.
(2)     Kocok dan ambil kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permainan.
Setelah pembaca pertama ditentukan, pembaca pertama kemudian mengocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Pembaca pertama lalu membacakan soal yang berhubungan dengan nomor yang ada pada kartu. Setelah itu, semua siswa harus mengerjakan soal tersebut agar mereka siap ditantang. Setelah si pembaca memberikan jawabannya, maka penantang I (siswa yang berada di sebelah kirinya) berhak untuk menantang jawaban pembaca atau melewatinya.
(3)     Tantang atau lewati
Apabila penantang I berniat menantang jawaban pembaca, maka penantang I memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban pembaca. Jika penantang I  melewatinya, penantang II boleh menantang atau melewatinya pula. Begitu seterusnya sampai semua penantang menentukan akan menantang atau melewati.
Apabila semua penentang sudah menantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar jawaban dan mencocokkannya dengan jawaban pembaca serta penantang. Siapapun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika jawaban pembaca salah maka tidak dikenakan sanksi, tetapi bila jawaban penantang salah maka penantang mendapatkan sanksi. Sanksi tersebut adalah dengan mengembalikan kartu yang telah dimenangkan sebelumnya (jika ada).
(4)     Memulai putaran selanjutnya
Untuk memulai putaran selanjutnya, semua posisi bergeser satu posisi kekiri. Siswa yang tadinya menjadi penantang I berganti posisi menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I, dan pembaca menjadi penantang yang terakhir. Setelah itu, turnamen berlanjut sampai kartu habis atau sampai waktu yang ditentukan guru.
(5)     Perhitungan poin
Apabila turnamen telah berakhir, siswa mencatat nomor yang telah meraka menangkan pada lembar skor permainan. Pemberian poin turnamen selanjutnya dilakukan oleh guru.

Selanjutnya, poin-poin tersebut dipindahkan ke lembar rangkuman tim untuk dihitung rerata skor kelompoknya. Untuk menghitung rerata skor kelompok adalah dengan menambahkan skor seluruh anggota tim kemudian dibagi dengan jumlah anggota tim yang bersangkutan.
2.2E.    Rekognisi tim (penghargaan tim)
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rerata skor kelompok. Penghargaan kelompok diberikan sesuai kriteria berikut.
Kriteria (rata-rata tim)
Penghargaan
40
45
50
Tim baik
Tim sangat baik
Tim super
More aboutModel Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)

Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar

Posted by Rizkianugrahaeni



Postingan saya kali ini adalah perihal karakteristik anak usia Sekolah dasar. Kenapa tema ini yang saya pilih?? Alasan yang utama mengapa saya memilih tema ini adalah karena saya adalah seorang guru sekolah dasar, selain karena anak-anak adalah pripadi yang unik dan lucu.... :D
Kita semuanya juga tidak bisa lepas dari dunia anak-anak. Kita semua pernah menjadi anak-anak. Anak-anak adalah kepolosan. Anak-anak adalah keceriaan. Anak-anak adalah dunia bermain. 



Manusia selalu mengalami proses perkembangan yang cukup panjang. Perkembangan manusia bahkan sudah dimulai saat masa prakelahiran, menuju ke masa bayi, masa anak-anak, masa remaja, hingga masa dewasa.
Pada usia anak-anak hingga menuju usia remaja, manusia mengalami perkembangan kognitif yang begitu penting. Menurut Piaget dalam Isjoni (2010:36), perkembangan kognitif anak melalui empat tahap yaitu: (1) tahap sensorimotor, berlangsung pada umur 0-2 tahun; (2) tahap praoperasional, yaitu umur 2-7 tahun; (3) tahap operasional konkret, yaitu umur 7-11 tahun; dan (4) tahap operasional formal yang berlangsung mulai umur 11 tahun ke atas.
Berdasarkan tahap-tahap perkembangan yang diungkapkan oleh Piaget, anak sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, kemampuan anak untuk berpikir secara logis semakin berkembang. Asalkan obyek yang menjadi sumber berpikirnya adalah obyek nyata atau konkret.
Karakteristik anak usia sekolah dasar tidak hanya itu. Menurut Sumantri dan Sukmadinata dalam Wardani (2012), karakteristik anak usia sekolah dasar yaitu: (1) senang bermain; (2) senang bergerak; (3) senang bekerja dalam kelompok; dan (4) senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
Karakteristik yang pertama yaitu senang bermain. Siswa-siswa sekolah dasar terutama yang masih berada di kelas-kelas rendah pada umumnya masih suka bermain. Oleh karena itu, guru sekolah dasar dituntut untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang bermuatan permainan, lebih-lebih untuk siswa kelas rendah.
Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak. Siswa sekolah dasar berbeda dengan orang dewasa yang bisa duduk dan diam mendengarkan ceramah selama berjam-jam. Mereka sangat aktif bergerak dan hanya bisa duduk dengan tenang sekitar 30 menit saja. Oleh karena itu, guru harusnya merancang model pembelajaran yang menyebabkan anak aktif bergerak atau berpindah.
Karakteristik yang ketiga adalah senang bekerja dalam kelompok. Oleh karena itu, guru perlu membentuk siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 siswa untuk mneyelesaikan tugas secara berkelompok. Dengan bergaul dalam kelompoknya, siswa dapat belajar bersosialisasi, belajar bagaimana bekerja dalam kelompok, belajar setia kawan dan belajar mematuhi aturan-aturan dalam kelompok.
Karakteristik siswa sekolah dasar yang terakhir adalah senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Mereka berusaha menghubungkan konsep-konsep yang sebelumnya telah dikuasai dengan konsep-konsep yang baru dipelajari. Suatu konsep juga akan cepat dikuasai anak apabila mereka dilibatkan langsung melalui praktik dari apa yang diajarkan guru. Oleh sebab itu, guru seharusnya merancang model pembelajaran yang melibatkan anak secara langsung dalam proses pembelajaran.
More aboutKarakteristik Anak Usia Sekolah Dasar

Pengertian Belajar Menurut Para Ahli

Posted by Rizkianugrahaeni


Belajar diartikan sebagai upaya untuk menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Banyak orang yang beranggapan bahwa belajar hanya wajib dilakukan oleh siswa. Padahal tidak demikian, karena belajar tidak mengenal batasan usia dan waktu.
Menurut Hilgrad dalam Sukmadinata (2007:155-156), belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap situasi. Hilgrad menitikberatkan pada hubungan antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi terhadap stimulasi yang diberikan guru. Apabila stimulasi yang diberikan kepada siswa mendapatkan respon yang baik maka dapat menyebabkan perubahan perilaku yang bersifat tetap.
Gagne dan Berliner dalam Anni (2007: 2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Dengan kata lain, belajar adalah proses perubahan perilaku individu yang diperoleh dari hasil interaksi individu tersebut dengan lingkungannya. Jadi, seseorang baru bisa dikatakan belajar apabila orang yang bersangkutan melakukan suatu aktivitas yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku yang relatif lama dan dapat diamati.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan Gagne tersebut, ada tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman. Penjelasan selengkapnya mengenai ketiga unsur pokok dalam belajar sebagai berikut:
(1)     Proses
Aktivitas belajar melibatkan proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila dia aktif berpikir dan merasakan. Proses berpikir dan merasakan ini tidak dapat diamati oleh orang lain, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang bersangkutan.
Proses berpikir dan merasakan memang tidak bisa dilihat oleh orang lain, tetapi orang lain dapat melihat kegiatan yang dilakukan sebagai akibat adanya proses berpikir dan merasakan. Contoh nyata kegiatan siswa sebagai akibat dari proses berpikir selama pembelajaran antara lain bertanya, menjawab pertanyaan guru, melaporkan hasil diskusi, membuat rangkuman, dan sebagainya. Proses belajar ini (berpikir dan merasakan) tidak hanya berlangsung saat berada di bangku sekolah saja, tetapi berlangsung seumur hidup pada semua orang.
(2)     Perubahan perilaku
Seseorang yang belajar akan mengalami akibat dari proses belajarnya yaitu perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat berupa pengetahuan dan keterampilan, serta penguasaan nilai-nilai dan sikap. Perubahan perilaku sebagai diklasifikasikan menjadi tiga yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Kognitif berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia yang terdiri dari enam aspek yaitu ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Afektif berkaitan dengan emosional manusia yaitu kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, internalisasi. Psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan-keterampilan motorik.
(3)     Pengalaman
Belajar adalah mengalami, artinya seseorang yang belajar mengalami interaksi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang baik adalah lingkungan yang dapat memberi rangsangan kepada siswa untuk belajar.
Belajar juga dapat dilakukan melalui pengalaman, baik pengalaman tidak langsung maupun pengalaman langsung. Belajar dengan cara mendengarkan penjelasan dari guru atau dengan membaca buku merupakan contoh belajar melalui pengalaman tidak langsung, sedangkan melakukan eksperimen terhadap sesuatu hal adalah contoh belajar melalui pengalaman langsung.
Dari ketiga unsur pokok dalam belajar yang telah dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses mental dan emosional seseorang yang mengakibatkan perubahan perilaku (kognitif, afektif, dan psikomotorik) karena adanya interaksi dengan lingkungan fisik dan atau lingkungan sosial. Belajar tidak dialami semasa bangku sekolah saja tetapi berlangsung sepanjang hayat.
More aboutPengertian Belajar Menurut Para Ahli